Rabu, 28 Sept 2011
Tak pernah berhenti untuk menemukan sesuatu hal yang melelahkan setiap hari. Bangun pagi, beres-beres, sarapan, lalu berangkat kuliah. Terduduk sekitar dua jam atau satu jam setengah dalam kelas mata kuliah yang kadang sangat memeras otak atau menyenangkan. Saban hari aku melaluinya. Apalagi jika diawali dengan kondisi jalanan kota yang sangat tidak steril. Debu jalanan yang menyesakkan ditambah lagi jika harus menelan asap kendaraan yang sarat polusi, membuat seperempat energiku habis dengan hal-hal yang sepele macam itu.
Semuanya kadang membuatku menjadi tampak sangat berantakan, tak teratur, pikiran bak benang kusut, tak peduli mengaji quran, mengerjakan tugas, atau berdo’a ketika hendak berangkat. Semua dijalani seolah air mengalir mengikuti arus. Hidup taka ada perencanaan, target masa depan atau paling minimal besok hari, sangat menghawatirkan. Ditambah lagi dengan kebodohan-kebodohan yang kerap aku lakukan, membuat semua perencanaan cemerlang hancur menjadi keeping-keping harapan yang kelak aku sesali. Aku pun seolah menjadi manusia paling tidak berguna di muka bumi ini. Saat seperti itulah kelemahanku memuncak dan perlahan menghancurkanku sebelum sampai akhirnya aku bangkit lagi.
Tapi kadang semua itu aku rasakan sebagai sebuah pelajaran berharga bagiku. Karena memang aku rasakan sendiri manfaatnya, paling tidak dari salah satu segi jiwaku yang sempit. Tapi perlahan menjelma menjadi energy-energi baru yang semakin membuatku mempunyai prinsip hidup yang begitu kuat, walaupun kadang ia goyah dengan suatu godaan yang seharusnya tak perlu aku jadikan alasan kemunduranku.
Aku akui, aku adalah orang yang lemah. Bahkan kelemahanku akan tampak sekali ketika berbaur dengan orang lain yang cenderung mengacuhkanku. Aku adalah orang yang selalu malu untuk sekedar bertutur sapa, orang yang paling pengecut ketika dosen dikelas menyuruh untuk menunjukkan keberanian menjawab pertanyaan yang sudah jelas jawabannya. Hanya tinggal mengacungkan tangan dan katakana pendapatmu..Tapi masalahnya kenapa aku selalu tidak bisa. Kenapa kau mau menjadi pengecut, kenapa kau tidak berani berkata untuk sesuatu yang benar atau salah dalam suatu wilayah pembelajaran? Kenapa kau lemah sekali. Pertanyaan-pertanyaan itu selalu membuat galau hati dan pikiranku, membuatku menjadi manusia yang berjalan menunduk keluar dari kelas bergengsi yang bisa mencetak orang-orang seperti Bill Gates si raja Microsoft itu, atau sisaudara penemu mesin pencari google itu, atau si milyader muda terkaya didunia yang telah mengubah cara orang berinteraksi social itu. Ah…, pernah juga terlintas dalam pikiran orang-orang sepertiku untuk bisa bergabung dengan perusahaan Microsoft. Kurasa itu hanyalah mimpi-mimpi kosong yang kebetulan singgah dalam alam pikiranku yang sedikit ambisius. Aku tak tahu!!



0 komentar:
Posting Komentar